Ideologi Sosialisme – Pengertian, Sejarah, Sistem Ekonomi

Sayanda.com – Ideologi Sosialisme – Pengertian, Sejarah, Sistem Ekonomi

Tahun ini, berita tentang kemiskinan di Venezuela terus mencuat di media. Kekacauan terjadi di mana-mana dan rakyatnya kelaparan. Padahal dulu, negara ini terbilang makmur karena memiliki cadangan minyak yang lebih banyak daripada Arab Saudi. Penyebab utama bencana ekonomi tersebut adalah sistem ekonomi yang sarat ideologi sosialisme.

Karena merupakan bagian dari sejarah, tak ada salahnya Anda juga memiliki pemahaman menyeluruh mengenai ideologi ini. Yuk simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Pengertian Sosialisme

Sosialisme merupakan ideologi yang bertujuan membentuk kemakmuran negara dengan usaha kolektif yang produktif serta membatasi milik perseorangan dan swasta. Pembatasan ini dilakukan untuk mencegah berjalannya usaha yang hanya bertujuan memperoleh laba tetapi namun lupa melayani kebutuhan masyarakat.

Terkadang, orang sering menyamakan sosialisme dengan komunisme. Padahal sosialisme lebih toleran karena mengizinkan kepemilikan perorangan dalam jumlah kecil. Misalnya hak atas bidang peternakan, kesenian, pilihan profesi serta usaha yang bersifat pedagang eceran dan jasa. Sementara dalam komunisme, semua hal dikontrol oleh negara. Dengan kata lain, komunisme adalah sosialisme yang radikal.

Penganut paham sosialis tak selamanya menyerahkan kepemilikan industri kepada negara. Namun, industri-industri vital yang menyangkut kepentingan umum wajib hukumnya berada di bawah naungan negara.  Misalnya, gas dan minyak bumi. Misalnya ada perusahaan swasta menangani industri vital di negara sosialis tersebut, maka akan diambil alih oleh negara secara bertahap.

Dalam perkembangannya, penerapan sosialisme di negara penganut menyesuaikan dengan tradisi negara bersangkutan. Hingga kini terdapat 10 negara yang masih menganut sosialisme yakni Belanda, Belgia, Cina, Denmark, Finlandia, Kanada, Swedia, Norwegia, Irlandia dan New Zealand. Keberhasilan negara-negara ini mengelola keuangan berimplikasi pada biaya pendidikan dan kesehatan gratis bagi rakyatnya.

 

Sejarah Sosialisme

Istilah sosialisme pertama kali muncul pada tahun 1827 dalam artikel yang ditulis oleh Robert Owen di majalah perkoperasian. Saat itu, paham kapitalisme sedang bertumbuh subur sehingga modal tertumpuk pada pihak tertentu saja untuk menjaga kelangsungan industri dan perekonomian.

Dampak dari paham kapitalis adalah terciptanya jurang yang luas antara golongan majikan (borjuis) dan buruh (proletar). Berkembangnya paham sosialis baik di Inggris maupun Perancis karena didorong oleh rasa kemanusiaan akan nasib buruh yang kian tertindas. Namun sayangnya, Owen dan tokoh-tokoh lain hanya menghadirkan teori saja tanpa perwujudan sehingga disebut sosialisme utopia.

Dalam perkembangannya, filsuf Jerman, Karl Marx mencetuskan teori sosialisme ilmiah yang melawan setiap bentuk utopia. Bahkan ia meyakini untuk menghapuskan kapitalisme dapat dengan cara kekerasan. Marx bersama rekannya Friedrich Engels menuangkan gagasan mereka dalam buku “Das Kapital”.

Marx menegaskan hak individual harus dihapus, termasuk hak pemilikan tanah. Di samping itu, kaum tani harus bergerak menuju masyarakat sosialis sejati. Nyatanya pendapat Marx tak sepenuhnya diterima oleh sosialis lainnya sehingga gerakan sosialis internasional mengalami perpecahan di akhir abad ke-19. Beberapa aliran yang muncul seperti sosialisme demokrat, komunisme ala Marx hingga sosialisme Kristen.

Setelah perang dunia II berakhir, terjadi perubahan pandangan para kaum sosialis. Misalnya di tahun 1960, banyak partai sosialis demokrat di Eropa melepaskan konsep ideologi Marx. Mereka mengubah sikap terhadap hak milik pribadi yang dapat diberikan sebagian. Bahkan peminat paham sosialis semakin meningkat karena banyak partai sosial di negara-negara Eropa berhasil memenangkan pemilu.

Penerapan ideologi sosialisme lebih berhasil dilakukan di negara-negara maju ketimbang negara berkembang. Di negara berkembang, sosialisme dimaksudkan untuk membangun ekonomi demi menunjang ekonomi dan pendidikan rakyat. Sementara di negara berkembang, sosialisme masih memikul tradisi pemerintahan yang otoriter dari penguasa setempat.

 

Ciri-Ciri Sosialisme

Menurut ideologi sosialisme, ekonomi yang bersifat kolektif dapat membawa keadilan dalam menyejahterakan rakyat. Adapun ciri-ciri sosialisme adalah:

  • Menolak kapitalisme serta menghapuskannya lewat perjuangan kaum buruh.
  • Membentuk sistem masyarakat berdasarkan dorongan kerja sama sehingga meminimalkan hak milik perseorangan.
  • Dengan masyarakat yang memiliki semangat bekerja sama dan solidaritas, maka hak-hak yang diperoleh juga sama.
  • Penentuan nasib individu hanya dapat dicapai melalui solidaritas bersama.
  • Menolak kebebasan penuh karena cenderung berpihak bagi kepentingan hak milik.

 

Kelebihan dan Kekurangan Ideologi Sosialisme

Dengan diterapkannya sosialisme, pemerintah dapat mengatur ekonomi negara menjadi lebih baik. Produktivitas ekonomi dapat terus dikembangkan sedangkan angka pengangguran menjadi turun. Keuntungannya, kondisi ekonomi negara dapat menjadi stabil. Pemakaian sumber daya alam pun dapat dikelola dengan baik.

Karena hak kepemilikan pribadi dibatasi, sistem monopoli seperti yang terjadi dalam negara kapitalis dapat berkurang.  Masyarakat yang menempati negara berpaham sosialis pun tak perlu takut dengan kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, kesehatan dan keamanan karena semuanya difasilitasi oleh pemerintah. Gaji yang diberikan pun merata sehingga tak ada ketimpangan sosial yang menonjol.

Sayangnya, perkembangan teknologi pada negara dengan ideologi sosialisme menjadi terbatas karena perencanaan yang ketat. Pekerja dituntut untuk tak banyak berinovasi dan melakukan pekerjaan yang monoton sepanjang waktu. Bila terjadi perubahan kecil dalam sistem, semua rencana menjadi rusak. Karena adanya sistem ini, orang menjadi takut sehingga bukan keinginan sendiri untuk bekerja secara jujur dan tulus.

Biasanya, dalam perekonomian kompetisi usaha membuat sistem semakin maju. Hal ini tidak berlaku bagi negara-negara sosialis. Kompetisi justru menyebabkan kerugian pada negara dan sistem yang telah dirancangkan dengan matang. Apalagi pekerjaan diatur oleh pemerintah, sehingga individu tak memiliki ruang untuk mengembangkan diri dalam bidang pekerjaan.

Demikianlah penjelasan tentang ideologi sosialisme. Sebagai warga Indonesia kita patut bangga memiliki ideologi Pancasila yang menjamin kebebasan berpendapat, berusaha dan memilih pekerjaan yang sesuai dengan cita-cita pribadi.

Sumber:

loading...

Leave a Reply